Apr 9, 2012

sejarah bahasa

Asal Usul Bahasa


Hingga abad ke 18 dan masa pencerahan (sebuah gerakan intelektual Eropa), sebagian besar pemikiran mengenai asal-usul bahasa berasumsi bahwa bahasa dimulai sejak adam dan hawa di Taman Firdaus. Teori terbaru mengenai asal usul bahasa adalah bahwa gerakan-gerakan tangan sederhana digunakan sejak 6 atau 7 juta tahun yang lalu, tak lama setelah garis keturunan (evolusi) manusia terpisah dengan kera. Teriakan digunakan untuk seruan ketakutan atau ledakan emosi. Sekitar 5 juta yahun yang lalu, hominid awal yang dikenal sebagai Australopithecus mulai berjalan tegak, dan sebuah bentuk gerakan tangan yang lebih rumit mungkin digunakan sejak itu. kemudian 2 juta tahun yang lalu, ukuran otak bertambah dan gerakan tangan digunakan dalam berbagai kombinasi untuk mengekspresikan gagasan, dan tetap menjadi cara komunikasi yang utama.


Sekitar 100.000 tahun yang lalu, homo sapiens mungkin telah mengubah cara komunikasi utama dari gerakan tangan dan muka menjadi vokalisasi dan penggunaan suara-suara yang berbeda untuk menyampaikan berbagai makna. Lambat laun, gerakan isyarat berkurang meskipun kita masih menggunakannya sekarang untuk menegaskan pembicaraan, bahkan saat kita melakukan komunikasi melalui telepon ketika orang yang kita ajak bicara diujung sana tidak bisa melihat gerakan kita.

Bahasa lisan paling tua hampir bisa dipastikan adalah bahasa Maya yang telah ada sejak tujuh ribu tahun yang lalu ketika suku Maya bermigrasi ke selatan menuju Meksiko. Ada 30 bahasa Maya sebagai bahasa lisan sekarang ini, masing-masing begitu dekat hubungannya sehingga para ahli bahasa percaya seluruh bahasa itu berasal dari satu bahasa proto-Maya

Sedangkan bahasa tulisan pertama dikembangkan oleh bangsa Sumeria sejak lebih dari lima ribu tahun yang lalu. Bahasa tulisan pertama saat itu adalah "Cuneiform". Hurufnya berbentuk paku yang aneh dan itu merupakan pengembngan piktogram-piktogram yang lebih awal. Cuneiform adalah bahasa pertama yang bisa menyampaikan ide-ide dan suara - suara abstrak. Hanya ada 2 angka dalam cuneiform, bentuk paku vertikal atau angka satu dan bentuk paku horisontal untuk angka sepuluh.

beberapa spekulasi lain adalah :

  • Bow-wow. Teori bow-wow atau cuckoo, yang Muller atribusikan kepada filsuf Jerman Johann Gottfried Herder, melihat kata-kata bermula sebagai imitasi dari teriakan hewan-hewan liar atau burung.
  • Pooh-pooh. Teori Pooh-Pooh melihat kata-kata pertama sebagai seru-seruan emosional dipicu oleh rasa sakit, senang, terkejut, dan lainnya.
  • Ding-dong. Müller menyarankan apa yang dia sebut dengan teori Ding-Dong, yang menyatakan bahwa semua mahluk memiliki sebuah getaran resonansi alami, digemakan oleh manusia dalam perkataan awalnya dengan suatu cara.
  • Yo-he-ho. Teoriyo-he-ho melihat bahasa muncul dari kegiatan kerja sama yang teratur, usaha untuk sinkronisasi otot menghasilkan suatu suara yang 'menghela' bergantian dengan suara seperti ho.
  • Ta-ta. Teori ini tidak ada dalam daftar Max Müller, tapi diajukan oleh Sir Richard Paget pada tahun 1930. Menurut teori ta-ta, manusia membuat perkataan pertama dengan menggerakan lidah yang meniru gerakan manual, membuatnya terdengar bersuara.
Banyak ilmuwan saat ini menganggap semua teori tersebut tidak begitu banyak yang salah -- adakalanya mereka menawarkan wawasan -- seperti naif komikal dan tidak relevan. Permasalahannya dengan teori tersebut yaitu mereka hampir mekanistik. Mereka mengasumsikan bahwa sekali leluhur kita menyadari kejeniusan mekanisme untuk menghubungkan suara dengan makna, bahasa secara otomatis berkembang.

Permasalahan reliabilitas dan kecurangan


Dari perspektif ilmu modern Darwin, rintangan utama dari evolusi komunikasi mirip-bahasa di alam bukanlah mekanisme. Melainkan, fakta bahwa simbol-simbol -- asosiasi acak antara suara atau suatu bentuk yang tampak dengan maknanya -- adalah tidak dapat diandalkan dan bisa saja salah. Seperti bunyi peribahasa, 'Berbicara itu gampang'. Permasalahan reliabilitas tidak dikenali oleh Darwin, Müller atau oleh ahli teori evolusi awal.

Sinyal vokal hewan pada umumnya secara intrinsik dapat diandalkan. Pada saat seekor kucing mendengkur, sinyal tersebut menandakan bukti langsung bahwa hewan berada pada keadaan senang. Kita dapat 'percaya' kepada sinyal tersebut bukan karena kucing itu jujur, tetapi karena suara itu tidak dapat dipalsukan. Seruan vokal primata bisa saja lebih dapat dimanipulasi, tetapi mereka tetap dapat diandalkan untuk beberapa alasan -- karena mereka susah untuk dipalsukan. Intelijensi sosial primata disebut Machiavellian -- melayani diri sendiri dan tidak dibatasi oleh moral. Monyet dan kera terkadang mencoba menipu satu sama lain, sementara pada saat bersamaan berjaga-jaga agar tidak menjadi korban dari penipuan itu sendiri. Paradoksnya, justru resistensi dari primata terhadap penipuan menghambat evolusi sistem sinyal mereka bersama dengan perkataan yang mirip-bahasa. Bahasa ditolak karena cara terbaik untuk mencegah dari tertipu adalah dengan mengabaikan semua sinyal kecuali yang reliabilitasnya dapat diperiksa langsung. Perkataan secara otomatis gagal dalam tes ini.

Kata-kata sangat mudah dipalsukan. Jika mereka seringkali berbentuk kebohongan, pendengar akan beradaptasi dengan mengabaikan mereka. Supaya bahasa dapat bekerja, pendengar haruslah yakin bahwa pembicara berbicara jujur secara umum. Fitur aneh pada bahasa adalah 'referensi terlantar', yang berarti referensi terhadap topik diluar situasi yang sekarang dialami. Properti ini mencegah ucapan-ucapan menjadi suatu kebenaran 'di sini' dan 'sekarang' secara langsung. Bahasa, karena alasan tersebut, mengasumsikan tingkat kepercayaan yang tidak biasa. Teori dari asal mulanya harusnya menjelaskan kenapa manusia dapat mempercayai satu sama lain dengan suatu cara dimana binatang lain tidak bisa (lihat teori sinyal).

Hipotesis 'bahasa ibu'

Hipotesis 'bahasa ibu' di ajukan pada tahun 2004 sebagai solusi yang mungkin dari masalah ini. W. Tecumseh Fitch menyatakan bahwa prinsip Darwinian dari 'seleksi saudara' -- ketertarikan konvergensi genetis antara kerabat -- bisa jadi bagian dari jawaban. Fitch menyarankan bahwa bahasa bermula dari 'bahasa ibu'. Jika bahasa berevolusi pada awalnya untuk komunikasi antara ibu dan turunan biologisnya sendiri, berkembang lebih lanjut mengikutkan kerabat dewasa juga, ketertarikan antara pembicara dan pendengar pastinya suatu kebetulan. Fitch beralasan bahwa ketertarikan genetis yang sama menyebabkan kepercayaan dan kerjasama yang cukup untuk sinyal yang secara intrinsik tidak dapat dipercaya -- perkataan -- supaya dapat diterima sebagai sesuatu yang terpercaya dan mulai berkembang untuk pertama kalinya.

Kritik terhadap teori ini menunjuk pada seleksi kerabat tidak hanya unik pada manusia. Ibu kera juga berbagi gen dengan turunannya, sebagaimana binatang lainnya, lalu kenapa hanya manusia yang berbicara? Lebih lanjut, sangat susah untuk percaya bahwa manusia awal membatasi komunikasi linguistik hanya pada saudara genetis: tabu mengenai inses pasti memaksa laki dan wanita berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang bukan saudara. Jadi, walaupun kita menerima premis pertama Fitch, penyebab dari hubungan 'bahasa ibu' dari kerabat kepada non-kerabat tetap tidak dapat dijelaskan.

Hipotesis 'altruisme timbal balik wajib'

Ib Ulbaek menyebutkan prinsip Darwinian lain -- 'altruisme timbal-balik' -- untuk menjelaskan tingkat kejujuran tinggi yang diperlukan oleh bahasa untuk berkembang. 'Altruism timbal-balik' dapat diekspresikan sebagai prinsip yang jika kamu menggaruk belakang saya, saya akan menggaruk punyamu juga. Dalam istilah linguistik, ia dapat berarti jika kamu berkata jujur pada saya, saya akan jujur juga padamu. Altruism timbal-balik Darwin umumnya, Ulbrek menunjukkan, adalah sebuah hubungan yang terjalin antara interaksi individu-individu yang sering terjadi. Supaya bahasa menguasai seluruh komunitas, bagaimanapun juga, suatu pertukaran diperlukan secara paksa secara universal tidak hanya dibiarkan sebagai pilihan individu. Ulbek menyimpulkan bahwa supaya bahasa dapat berkembang, masyarakat awal secara keseluruhan pastinya subjek dari regulasi moral.

Kritik menunjukkan bahwa teori ini gagal menjelaskan kapan, bagaimana, kenapa atau oleh siapa 'altruisme timbal balik wajib' dapat mungkin ditegakkan. Berbagai proposal telah diajukan untuk memperbaiki kekurangan ini. Kritikan lebih lanjut adalah bahwa bahasa tidak bekerja berdasarkan altruisme timbal-balik. Manusia dalam percakapan grup tidak menyimpan semua informasi kecuali pendengar mau memberikan informasi berharga sebagai balasan. Secara berlawanan, mereka tampak ingin menampilkan kepada dunia akses mereka terhadap informasi yang berhubungan secara sosial, menyebarkannya kepada siapa saja yang mau mendengarkan tanpa menginginkan kembalian.

Hipotesis gosip dan perawatan

Gosip, menurut Robin Dunbar, dilakukan kelompok manusia dimana merawat berlaku pada primata lainnya -- ia membolehkan individu untuk melayani hubungan mereka dan menjaga persekutuan mereka dengan prinsip dasar, Jika kamu menggaruk belakang saya, saya akan menggaruk punyamu juga. Saat manusia mulai hidup di grup sosial yang semakin besar, pekerjaan merawat semua teman dan kenalan menjadi memakan waktu dan tidak terjangkau. Merespon permasalahan ini, manusia menciptakan 'perawatan yang murah dan sangat efisien' -- perawatan vokal. Untuk membuat teman bahagia, sekarang anda cukup 'merawat' mereka dengan suara vokal yang rendah, melayani sejumlah sekutu secara bersamaan sementara membuat kedua tangan bebas untuk pekerjaan lainnya. Perawatan vokal kemudian berkembang secara bertahap menjadi bahasa percakapan -- awalnya dalam bentuk 'gosip'.

Kritik terhadap teori ini menunjuk pada efisiensi dari 'perawatan vokal' -- fakta bahwa bicara itu gampang -- akan merusak kapasitasnya untuk mensinyalkan sejenis komitmen yang disampaikan dengan perawatan manual yang berharga dan memakan waktu. Kritikan lebih lanjut adalah bahwa teori ini tidak menjelaskan transisi krusial dari perawatan vokal -- produksi suara yang menenangkan tapi tidak berarti -- ke kompleksitas kognitif dari berbicara secara sintaks.

Koevolusi ritual/bicara

Teori koevolusi ritual/bicara awalnya diajukan oleh antropolog sosial terkenal Roy Rappaport sebelum dielaborasi oleh antropolog seperti Chris Knight, Jerome Lewis, Nick Enfield, Camilla Power dan Ian Watts. Ilmuwan kognitif dan insiyur robotik Luc Steels adalah pendukung penting dari pendekatan ini, seperti juga antropologis/neurosains biologis Terrence Deacon.

Ilmuwan tersebut beralasan bahwa tidak ada yang namanya 'teori asal mula bahasa'. Hal ini dikarenakan bahasa bukanlah sebuah adaptasi terpisah tapi sebuah aspek internal yang lebih luas -- dinamakan, kultur simbolis manusia secara keseluruhan. Mencoba menjelaskan bahasa secara independen dalam konteks yang luas ini secara spektakuler gagal, para ilmuwan tersebut mengatakan, karena mereka menangani masalah tanpa solusi. Bisakah kita membayangkan seorang ahli sejarah mencoba menjelaskan munculnya kartu kredit secara tersendiri dalam sistem yang luas dimana ia adalah sebuah bagian? Menggunakan kartu kredit masuk akal jika anda memiliki rekening bank secara institusi dikenal dalam suatu jenis masyarakat kapitalis maju -- suatu sistem dimana teknologi komunikasi elektronik dan komputer digital telah ditemukan dan penggelapan dan dideteksi dan dicegah. Dalam hal yang sama, bahasa tidak akan bekerja diluar susunan institusi dan mekanisme sosial. Sebagai contohnya, ia tidak akan bekerja bagi seekor kera yang berkomunikasi dengan kera lain di dunia liar. Bahkan tidak untuk kera tercerdas pun dapat membuat bahasa bekerja di bawah kondisi tersebut.

1 comment: